Dunia Pendidikan Sulut,”Mati Suri” Bertengger Dinomor Buncit, Siapa Bertanggungjawab

Sulut – sinarrayanews.com

Mutu dan/atau Kualitas pendidikan Sulawesi Utara khusus Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan akhir tahun ajaran 2018-2019 sesuai pengumuman Pemerintah Pusat bertengger diurutan nomor buncit alias nomor sepatu, rangking tiga puluh dua tidak hanya mencoreng muka dan nama besar seorang Gubernur Propinsi Sulut Olly Dondokambey, institusi dan/atau lembaga pendidikan tapi juga masyarakat dibuat meradang atas jebloknya mutu pendidikan yang terjun bebas ke urutan paling buncit.

Secara nasional berada di rangking tiga puluh dua, sungguh suatu hal yang sangat memalukan dunia pendidikan Sulawesi Utara. Daerah yang sebelumnya dihuni oleh banyak orang pintar dengan yang bergelar Doctor terbilang tak sedikit jumlahnya harus menerima tamparan tak mengenakan melihat kinerja oknum kadisdiknas yang membuat dunia pendidikan Sulut jatuh terpuruk, ada apa dengan dunia pendidikan Sulawesi utara, mengapa demikian, adakah sesuatu yang salah dan siapa bertanggungjawab ?

Terkait hal itu awak media sinarrayanews.co coba menelusuri dengan menyambangi sejumlah Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan bertujuan mengetahui lebih jauh tentang apa, mengapa dan bagaimana pengelolaan management dan teknis pendidikan oleh pemerintah daerah khusus Dinas Pendikan Nasional Propinsi Sulawesi Utara yang saat ini digawangi dr. Grace Punuh dengan kinerja buruk dan tidak mengherankan kalau dunia pendidkan Sulut kini lagi sekarat berada pada titik nadir paling terendah, bagai mati suri, hidup nda, mati pun tidak lalu bagaimana sikap orang nomor satu Sulawesi Utara terkait jebloknya kualitas pendidikan daerah ini dan selanjutnya langkah serta tindakan apa yang akan dilakukan OD dalam mencermati hal tersebut, mari kita tunggu namun yang jelas OD harus bersikap ,” tandas salah-satu tokoh pendidikan yang meminta redaksi merahasiakan namanya.

Komentar demi komentar pun meluncur dari mulut beberapa Kepala Sekolah menyikapi jebloknya mutu dan/atau kualitas pendidikan yang saat ini mengalami penurunan secara drastis seakan bertolak-belakang dengan kondisi sebenarnya dilingkungan sekolahnya masing-masing sebagaimana diungkap Kepsek SMKN 1 Dra. Moodie Lumintang, M.Pd bahwasanya capaian prestasi berdasarkan angka kelulusan seratus persen dan Passing Great rata-rata nilai 50 sampai dengan 75 untuk bidang study Matematika, Bahasa Indonesia Bahasa Inggris dan IPA. Capaian nilai kelulusan tersebut menurutnya merupakan sebuah prestasi luar biasa bila dihubungkan dengan Sistim Ujian Nasional Berbasis Komputer dimana semua soal ujian dilakukan secara online termasuk pengerjaan dari setiap soal ujian diberi waktu sangat terbatas untuk setiap pertanyaan dan selanjutnya beralih ke pertanyaan lain memang butuh kecepatan tapi juga kecerdasan siswa dalam menjawab setiap pertanyaan

Dengan waktu yang sangat terbatas itu siswa yang mengikuti ujian akhir sekolah hampir tidak ada kesempatan untuk corat-coret khusus untuk bidang study matematika, Biologi, Kimia, Fisika dan/atau Ilmu Pengetahuan Alam sehingga dari capaian akhir ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri buat para Kepala Sekolah termasuk guru bidang study sebagaimana yang saya sebutkan diatas,” ujar Lumintang

Selanjutnya Lumintang menjelaskan bahwa ujian akhir sekolah berbasis komputer berbeda jauh dengan sistim ujian menggunakan alat tulis- menulis dimana para siswa yang mengikuti ujian akhir sekolah masih punya cukup waktu untuk corat-coret tapi sistim UNBK waktunya benar-benar mepet setelah itu beralih ke soal lain tapi, kami sangat bersyukur Sulawesi Utara berada pada rangking lima secara nasional untuk ujian akhir sekolah Berbasis Komputer,”ucaps Kepsek SMKN 1, SMKN 3 dan Kepsek SMAN 8

Sementara menyoal tentang rangking ujian akhir sekolah yang terpuruk tersirat, nada ketiksetujuan mereka terhadap rangking yang di publis pemerintah pusat bila dibandingkan dengan nilai rata-rata kelulusan 40,03 dan angka kelulusan seratus persen sementara rangking teratas secara nasional menurut Folly Assa yaitu Daerah Istimewa Jogjakarta terbilang hanya terpaut pada angka dan tidak berbeda jauh dengan nilai kelulusan daerah lain jika dibandingkan dengan daerah tersebut pada angka rata-rata 59 dapat dikatakan perbedaannya tidak terlalu signifikan.

Namun demikian mereka Assa tak memungkiri bahwa penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan berkuliatas tidaklah bersifat parsial melainkan terintegral dalam sebuah komitmen yang bersifat terpadu, menyeluruh dan konprehensif, antara Sekolah, Guru, Murid, Orangtua, Pemerintah dan masyarakat pada umumnya, pihak sekolah rasanya tak mungkin dapat berbuat banyak tanpa partisipasi dan dukungan semua pihak apalagi berbicara prestasi dalam hal ini mutu dan kualitas pendidikan, jauh panggang dari apa kalau tidak ditopang semua pihak,” tandasnya.

Sementara itu mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang bermutu, berkualitas dan berakhlak berdasarkan ketentuan pasal 50 ayat 2 UU Nomor 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa (2).Pemerintah menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional. Sementara itu hal pendanaan sesuai UU Nomor 20 tahun 2003 Bab XIII Pendanaan Pendidikan, bagian Kesatu, tanggung jawab Pendanaan sebagaimana dimaksud ;

Pasal 46 Point (1) Pendanaan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat. (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab menyediakan anggaran pendidikan sebagaimana diatur dalam pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Oleh sebab itu selain mewujudkan amanat Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas ada hal yang lain tak kalah penting tapi juga sangat menentukan terhadap maju mundurnya dunia pendidikan, menurut sejumlah Kepsek yang sempat ditemui awak media sinarrayanews.co tidak terlepas dari sinergitas

Serta kerja-sama antara Sekolah, Guru, Murid dan Orangtua termasuk kucuran dana dari pemerintah harus tepat waktu agar segala sesuatunya dapat terjalin harmonis agar dengan demikian maksud dan tujuan serta sasaran pendidikan yang hendak dicapai dapat terwujud ,” ucap sejumlah Kepala Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan yang sempat ditemui awak media sinarrayanews.co diruang kerjanya mereka masing-masing beberapa waktu lalu.

Dalam bincang-bincang tersebut sejumlah Kepala Sekolah SMA/SMK terungkap beberapa hal semisal, pembinaan mental dan karakter dari peserta didik, menurut Mediatrix Ngantung tidak hanya menjadi tanggungjawab sekolah melainkan orangtua-lah yang memegang peranan penting dalam pembentukan mental, watak dan karakter anak didik agar menjadi anak yang berbudi luhur dan memiliki perilaku hidup yang baik. Sekolah hanya bagian terkecil dari waktu proses belajar-mengajar yang tersedia dalam membina dan mendidik mereka menjadi anak yang berprestasi dan berakhlak mulia melainkan, sepenuhnya menjadi tanggungjawab orangtua murid.
Sementara ketika menyinggung kinerja oknum Kadisdiknas baik Kepsek SMKN 1 Drs. Moodie Lumintang, M.Pd, Kepsek SMKN 3 Dra. Folly Assa, M.Pd dan Kepsek SMAN 8 Dra. Mediatrix Ngantung, M.Pd tak memberikan tanggapan apa pun, menurut mereka, kami tidak dalam posisi menyoroti hal tersebut, itu urusan pemerintah, yang kami lakukan bagaimana proses belajar siswa tetap berlangsung tanpa terusik oleh persoalan prestasi dan kinerja yang tengah menjadi pergunjingan hangat masyarakat Bumi Nyiur Melambai. Ada hal yang lebih penting dari semua itu yaitu, bagaimana para siswa mampu menyerap dengan baik setiap mata study yang diajarkan kepada mereka.
Yang kami lakukan adalah bagaimana upaya Transfer of Knowledge dapat berjalan dengan baik dan tidak terpengaruh oleh gonjang-ganjing keterpurukan yang lagi hangat diperdebatkan publik Sulawesi Utara ada hal yang lebih penting dari semua itu yaitu bagaimana tanggungjawab kami selaku penyelenggara pendidikan didalam memberi perhatian agar senantiasa prosres belajar-mengajar di Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan dapat terus berlanggsung dengan kata lain, kami terfokus dan terarah pada bagaimana menelorkan siswa yang unggul, menguasai ilmu pengetahuan dan technologi sedini mungkin, berkarakter dan berbudi pekerti luhur agar kedepan mereka menjadi generasi yang diandalkan.”Ucap mereka.
Dibagian lain salah-satu Tokoh pendidikan tadi ketika ditanya terkait sinyalemen pendidikan yang kini lagi sekarat alias mati suri menyebutnya tergantung dari sisi mana dan dalam konteks apa seseorang melihat dan memahaminya. Kalau sinyalemen keterpurukan dilihat dari sudut pandang objektif maka semua pihak berkewajiban untuk memberi saran atau pun pendapat serta pemikiran konstruktif dan duduk bersama Pemerintah, Sekolah, Guru, Murid, semua komponen dan semua pihak yang peduli dengan dunia pendidikan untuk mencari dan menemukan akar persoalan yang sebenarnya kemudian memberikan formula yang tepat atau solusi terbaik untuk menata dan membangun kembali dunia pendidikan yang oleh sejumlah pihak lagi sekarat alias “Mati Suri,” tutup-Nya. (jl)

Admin SR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Melaksanakan Pengamanan Kodim Barabai Objek Wisata Saat Libur

Jum Jun 7 , 2019
Sulut – sinarrayanews.com Mutu dan/atau Kualitas pendidikan Sulawesi Utara khusus Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan akhir tahun ajaran 2018-2019 sesuai pengumuman Pemerintah Pusat bertengger diurutan nomor buncit alias nomor sepatu, rangking tiga puluh dua tidak hanya mencoreng muka dan nama besar seorang Gubernur Propinsi Sulut Olly Dondokambey, institusi dan/atau lembaga pendidikan […]