Mengulik Keseharian Nigiri, Penumpang yang Ngaku Bawa Bom di Lion Air

 

 

PONTIANAK sinarrayanews.com

Frantinus Nigiri, penumpang Pesawat Lion Air nomor penerbangan JT 687 yang terjerat kasus informasi bom, merupakan mahasiswa penerima beasiswa dari Pemerintah Provinsi Papua. Dengan dana beasiswa itu, ia kuliah di Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), pada tahun ajaran 2009/2010.

Pria asal Wamena ini mengambil Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip). Selama menempuh pendidikan di Bumi Khatulistiwa, ia belum pernah pulang ke kampung halamannya.

“Dia pernah cerita biaya (pulang kampung) mahal,” ungkap Dosen Fisip Untan, Pardi kepada wartawan, Selasa 29 Mei 2018.

Bahkan, untuk bisa pulang ke kampung halamannya ia harus merogoh kocek sampai Rp10 juta. Dari Jayapura ke tempat asalnya, disebut Pardi, harus mamakan waktu empat jam perjalanan. Nigiri juga dikabarkan pernah menjadi kuli bangunan untuk menambah biaya hidup dan kuliah di Kalbar.

Nigiri pun berhasil menamatkan kuliahnya, pada Mei 2018, dan ia hendak pulang ke Wamena pada Senin 28 Mei 2018 malam. Dari Bandara Internasional Supadio Kubu Raya, dia dijadwalkan terbang ke Jakarta (transit) pada pukul 18.40 WIB. Namun, karena dia dituduh melakukan candaan bom, maka penerbangan dibatalkan. Semua penumpang panik hingga berjatuhan.

Akibatnya, Nigiri diamankan polisi untuk diperiksa. Ihwal ini, Pardi yang juga dosen pembimbing Nigiri, seakan tak percaya hal itu dilakukannya. Pardi juga tidak menampik kemungkinan ada stigma dalam melihat penampilan Nirigi.

“Kesannya keras. Padahal tidak kok. Semoga apa yang dituduhkan tidak benar,” harapnya.

Ia menyebutkan, Nigiri memang logat bicaranya cepat. “Saya saja selalu minta dia mengulang kalimat jika ada yang tidak jelas. Bisa jadi dan mungkin saja ini salah dengar,” ujarnya.

Dekan Fisip Untan, Sukamto pun memiliki pandangan serupa mengenai Narigi. Di mata sang dosen, Nigiri merupakan sosok mahasiswa yang berperangai baik. Bahkan, sepengetahuannya tidak pernah bertingkah aneh.

“Walau dari sisi akademi dia tidak menonjol. Itu yang saya tahu. Bukan berarti ini membela dia, tapi memang itu kenyataannya selama dia jadi mahasiswa,” katanya.

Maka dari itu, Sukamto meminta kepolisian harus bijak menangani kasus ini. Harus menyimpulkan dari dua sisi. Baik dari pramugari dan Nigiri.

“Jangan hanya melihat dari satu sisi saja. Ini lebih kepada masalah miskomunikasi, bila saya melihat berita yang beredar. Dialek orang timur memang berbeda dengan dialek kita jadi terasa asing. Terutama karena kita ini juga lagi dirundung kekhawatiran akibat bom beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Back to top button
Close
Close