Saksi Ahli Hukum Pidana Ingatkan Hakim Disidang Perkara Kasus Pembakaran Sekolah Palangkaraya

 

JAKARTA — sinarrayanews.com

Kasus pembakaran sekolah di Palangka Raya, dengan terdakwa Suriansyah, Nora Sayuti dan Fahriansyah alias Ogut kembali di gelar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Rabu (28/3-2018), malam.

Pada sidang dengan terdakwa Suriansyah, Nora dan Sayuti kali ini di hadirkan Ahli Hukum Pidana Abdul Fikar SH HM.
yang memberikan keterangannya bahwa apabila terdakwa atau saksi mahkota yang berada dibawah sumpah mencabut Berita cara pemeriksaan, maka hakim sepatutnya wajib berasumsi dan menggunakan fakta terungkap di dalam persidangan sebagaimana yang diatur dalam pasal 183 KUHP.

Saksi ahli hukum pidana juga mengingatkan, dalam memutuskan perkara Hakim minimal memiliki 2 alat bukti yang di miliki. Sebaliknya bila hakim tidak memilikinya hakim harus membebas kan terdakwa tersebut.

Sedangkan dalam sidang terdakwa Fahriansyah alias Ogut, jaksa penuntut umum (JPU) menghadir kan kembali Saksi Digital Forensik dari Mabes Polri bernama Saji Purwanto yang melakukan penyelidikan dan pemeriksaan digital dalam kasus ini. Sama diketahui di sidang sebelumnya saksi ahli digital forensik telah menyatakan kalau tidak ditemukan adanya konspirasi dalam hasil penelitiannya itu.

Kali ini dalam kesaksiannya Saji Purwanto juga mengatakan bahwa dirinya sudah memenuhi 5 kali permintaan pemeriksaan oleh penyidik terhadap obyek, kurang lebih 15 handphone milik pelaku dan saksi.

Ditegaskannya, saat pemeriksaan, alat mereka tidak support hingga pihaknya tidak menemukan apa-apa. Begitu juga ada 2 handphone milik terdakwa yang sebelumnya di curigai ternyata yang ditemukan hanya daftar nama kontak dan panggilan tapi tidak diketahui panggilan itu apa isinya.

Sementara untuk SMS dan WA, tidak satupun ada yang mengarah pada kata menyuruh membakar atau penyebutan sekolah-sekolah mana yang akan dibakar. Begitu pula undangan atau permintaan untuk berkumpul, atau rapat di KONI dan Betang. Saji Purwanto kembali menegaskan, dari hasil pemeriksaan serta analisa, dari pihaknya tidak menemukan hal-hal yang berisi sebagai konpirasi bentuk komunikasi dari SMS dan WA terkait dengan tindak pidana pembakaran sekolah tersebut.

Sementara itu, Penasehat Hukum Yansen Binti, Sastiono Kesek saat dimintai keterangan, juga membenarkan, bahwa JPU telah menghadirkan 1 saksi Saji Purwanto dari Digital Forensik Mabes Polri.

Pengacara muda tampan yang penuh semangat itu mengatakan, bahwa sidang yang digelar adalah merupakan sidang kasus pembakaran sekolah dengan terdakwa Indra Gunawan Cs.

Sebenarnya, ujar Sastiono, JPU minta dihadirkan Yansen Binti, Berti dan Deni, sebagai saksi untuk terdakwa Indra Gunawan. Cs, namun entah kenapa tidak jadi dilakukan.

“Dengan adanya pernyataan dari kesaksian serta keterangan saksi ahli Digital Forensik dari Mabes Polri Saji Purwanto ini, maka jelas makin mengaburkan tuntutan dan tuduhan atas kasus tersebut, serta kesaksiannya itu justeru malah menguntungkan bagi terdakwa Yansen Binti, dkk,” papar Sastiono.SH

Dengan demikian, Sastiono mengaku optimis atas kasus ini, pasalnya dengan telah dihadirkannya banyak saksi oleh JPU yang malah justru dapat menguntungkan langkah acara pembelaannya.

“Kasus ini sedikit demi sekit mulai terang benderang, kita sangat berharap hakim adil dan berkenan melihat dari perjalanan serta pengakuan para saksi yang sudah dihadirkan, baik dari saksi meringankan, juga dari saksi yang dihadirkan JPU untuk memberatkan namun justru malah meringankan,” pungkas Sastiono *(Goesti)*

error: Content is protected !!